Berhenti

11:28 AM


My dear diary...

Ternyata udah lama juga gak nulis disini. Udah banyak banget yg dilalui, ups and downs, suka dan cita, sampai kali ini aku berada dititik terendah dalam hidupku. Mungkin aku yg 7 bulan lalu gak bisa mengetik 1 katapun disini, tapi hari ini... aku bisa. Ya... aku bisa....

And here we go..


Aku pernah menjadi istri yang paling penurut di muka bumi ini. Dan ini adalah satu-satunya penyesalan terbesar dalam hidupku. Kadang aku berfikir, what would I do if I could turn back time? tapi pertanyaan ini memperburuk keadaan, dan pada akhirnya aku berhenti, aku berhenti menyesali nya. Mungkin ini sudah jalan takdir ku?

Well, aku bertemu Dia, seseorang yang pertama kali mengerti aku, ntah itu karena sifat alami nya atau mungkin karena pengalaman nya menghadapi banyak wanita. Tak ku gubris, yang penting aku menemukannya, dan kali ini aku tak mau membuang waktu.


Awal nya aku sempat ragu dan mau melangkah mundur, karena kulihat HP nya sekilas begitu banyak perempuan yang dia hubungi disaat kencan kami yang kedua, air mata ku sedikit berkumpul di pulupuk mata sambil bergumam dalam hati, kenapa aku harus mengalami ini lagi.. aku begitu malu, berhubungan dengan lelaki yang menghubungi semua wanita yang di anggap nya gampang, aku sempat diam.. lama.. dia merasakan aku berbeda menjadi pendiam dan dia bertanya aku kenapa, kujawab "tak apa" tapi kemudian dia meyakinkan ku bahwa baginya jika 1 ya hanya 1 wanita baginya.. Tapi kata-kata ini seperti tak asing, aku pernah juga mendengar ini dari seorang pria di masa lalu, tapi pada akhirnya aku di tinggalkan juga. 


Kemudian, hubungan kami mulai berjalan mulus.. aku dikenalkan ke keluarga nya dan mereka terlihat welcome, aku lihat dia sosok anak yang berbakti begitu sayangnya dia kepada ibunya, kami diskusi tentang masa depan dengan 1 tujuan, tapi aku merasa aneh kenapa bisa secepat ini? apa yang membuat aku begitu yakin? Dia dengan percaya diri nya bilang dia bukan seorang yg patriarki.. yang mana aku hidup di dalam keluarga patriarki tentu saja mendengar ini seperti menemukan harta karun.. karena aku tau, aku tak bisa di atur dengan peraturan yang tak sejalan dengan ku, di zaman yang modern ini. Yang paling ku ingat adalah dia tak suka istri yang mengambilkan nasi untuk suami nya, dia bilang istri bukan pembantu, dia tak suka para lelaki yang patriarki. Aku tersenyum mendengar nya. Ok baiklah mungkin dia jodohku..


Pernikahan dipercepat karena kondisi Bapakku terus menurun.. sebulan pernikahan beliau meninggal. 2bulan kemudian aku melangsungkan resepsi pernikahan, disinilah muncul satu persatu hal yang tak kulihat sebelum pernikahan... Semua mulai berubah.. dia mulai marah kalau makan dan minum nya tak kusiap kan.. ntah karena provokasi dari ibunya sendiri yang selalu mengatakan adat orang minang ntah emang sifat aslinya, dia mulai mendiamiku berhari hari ketika marah.. dan yang paling parah adalah aku pernah tak diperdulikan selama 2 bulan saat hamil muda..


Aku stress berat, Hamil TM1 aku masih kerja seperti biasa tapi kali ini aku diizinkan WFH, makan tak bisa, minum tak bisa, akhirnya aku memutuskan menginap dirumah ibu ku, 1 minggu aku disana kami cekcok perkara hal receh, tapi dengan tega nya dia tak menghubungiku dan menanyakan kabarku selama 2 bulan, kulihat dia bisa tertawa berkumpul bersama teman-teman nya sedangkan aku disini berusaha untuk bisa makan memenuhi gizi janin kecilku... 2x aku USG ke dokter obgyn sendirian hanya ditemani ibuku. Aku mengadakan acara 4bulanan mensyukuri 4bulan ruh di tiupkan ke janin ku, dengan ego nya pun dia memilih untuk tidak datang. Pernah aku Flek dan izin tak kerja, lalu bos ku bertanya langsung ke dia, dan dia jawab "gak kenapa kenapa". Apa nya yg gakpapa? tau dari mana dia gk apa apa? apa dia tau? apa dia bertanya padaku? tak pernah pesan atau telpon masuk 1x pun setelah kami cekcok sampai aku flek. Aku sempat membatin dalam hati, "bahkan kalo bayi ini mati pun aku rasa dia tak perduli".....


Aku menurunkan ego ku, hari sabtu dini hari jam 5:00 Subuh dengan perut yang agak membesar, aku memesan Ojol untuk pulang kerumah kami, memohon maaf pada nya, walaupun aku tak tahu apa kesalahanku sampai aku pantas di perlakukan seperti ini? aku tetap memohon maaf padanya mungkin aku belum bisa menjadi istri yang berbakti di mata nya, terasa tak ada harga diri lagi. Yah.. lalu setelah itu hubungan kami berjalan lagi tapi kali ini hatiku mulai terasa tertekan..


Tiba di bulan Ramadhan, perutku sudah sangat besar, tinggal 1 bulan lagi aku akan melahirkan bayi cantik ini kedunia.. Pulang kerja kami mencari menu berbuka untuk dia, berjalan keliling sampai aku kelelahan, kaki ku mulai membengkak, aku capek mau baring. Begitu sampai rumah aku langsung masuk kamar berbaring sambil menaikkan kaki ku agar bengkak nya hilang, dari luar kamar aku mendengar dia marah sambil membanting-banting magicom penanak nasi, dia begitu marah karena aku tak menyiapkan nasi untuk nya berbuka. Aku diam.. menangis dalam hati.. aku kerja, aku capek, aku hamil, kaki ku bengkak penuh cairan seperti kaki gajah, dan dia masih marah perkara hal ini.. kenapa aku yang harus selalu ngertiin dia, pernah gak sih dia ngertiin kondisi aku sekarang ini? Ya Allah tolong aku..


Lebaran pertama kami di mulai.. Aku merasa dia seperti membatasi dirinya dengan keluarga ku.. keluarga ku pun merasa ada berbeda dengan diriku tapi mereka tak pernah mengatakannya. Akupun tak bisa mengadu, karena aku malu.. Aku malu udah memohon maaf subuh subuh dengan perut buncit padahal aku kesalahanku tak sebesar itu.. Mungkin ibuku pun marah dengan keputusan ku, maka dari itu aku tak pernah lagi mengadu perihal kondisi ku dan bagaimana aku diperlakukan.


Selang seminggu lebaran, tiba tiba kulihat ada benjolan cair di pundak ku.. seperti cacar. Aku bilang ke dia, "sepertinya aku kenak cacar, aku harus bagaimana?" lalu dia lihat kulitku tanpa ekspresi dia berkata "itu bukan cacar, itu alergi air minum aku sering kayak gitu" bagaimana bisa dia setenang ini bahkan dia tak mengajakku untuk diperiksa ke dokter... pikiranku udah kacau.. ku telpon ibuku dan kakakku karena dia pernah juga hamil cacar dan kondisi kandungannya tidak baik.. ibu dan kakakku marah.. menyuruhku ke IGD untuk di rawat inap karena dia tau bahwa ibu hamil cacar itu salah satu kondisi yang berbahaya. Lalu aku menghubungi dokter Obgynku, menceritakan kondisi ku, dia menyuruhku untuk langsung ke klinik. Aku pergi, diperiksa, diresepi obat, dan dokter berkata tak apa, tak perlu ditakuti, lalu kami pulang. Dirumah aku masih sedih dengan reaksi dia yang santai. Aku minta untuk dibawa ke UGD tapi dia tak mau, karena dia kerja dan tak bisa menemaniku disana. Aku benar benar tak mengerti, semua teman ku suami nya selalu siap siaga saat istrinya hamil anak pertama, tapi kenapa dia berbeda? apa yang salah? kali ini aku salah apa lagi? kenapa sikap nya bisa setenang ini? kenapa tak ada setitik keperdulian dia terhadap ku? kenapa? 


Ibuku terus menelepon ku menanyakan, kenapa belum ke UGD juga.. Aku bilang, "tak apa bu.. Dia tak bisa menemani karena kerja, nanti repot" Ibuku diam.. 

Selang seminggu, jam 2 pagi, aku kejang, badan terasa dingin menggigil.. Kejang tak bisa berhenti... aku memanggil nya , dia bangun dari tidur dan panik sedikit melihat aku kejang kejang, tapi yang dia lakukan hanya mematikan AC, menyelimutiku, dan mengkompresku.. disinilah titik balik nya.. Ibu hamil tak boleh demam.. sampai menggigil begitu, betapa panas nya badanku saat itu? bukan membawaku ke UGD dia hanya menyelimutiku dengan pakaian dan selimut yang setebal tebal nya...2 jam kemudian perutku mulai sakit. Aku tak tau ini sakit apa, tapi selang nya tiap 4 menit sekali dan aku mencatat nya di notes hpku saat itu, awal nya tak begitu sakit hanya keram keram biasa, tapi lama lama terasa intens. aku bolak balik kamar mandi tapi bukan sakit perut untuk buang air.. sakit perut apa ini..


Pagi nya dia siap-siap berangkat kerja.. aku memohon dia untuk tak kerja dan menemaniku disini dengan kondisi ku masih menahan sakit perut. Tapi dia bilang gak bisa ada kerjaan urgent dan dia harus pergi kerja. Aku sudah bilang bahwa perutku sakit dari jam 4 pagi terus menerus tiap 4 menit sekali, tapi dia bilang itu cuman sakit karena telat makan... Ya Allah.. aku gak kuat lagi, ku telfon kakakku, aku jelaskan perutku sakit tak berhenti, dari sebrang telpon dia teriak "ITU KONTRAKSI TUNGGU SITU AKU JEMPUT"  duarrrrr aku takut, ini belum waktunya lahir kenapa tiba tiba kontraksi. Aku bilang padanya aku mau kerumah sakit, dia pun ikut, aku dibawa pakai mobil kakakku, dia memilih naik motor nya, pisah dari kami. Aku terbaring di kursi belakang sendirian dengan surat Nabi Yunus tak terputus sampai kami tiba di rumah sakit.


Aku di cek udah pembukaan 2. dan tak lama pembukaan 4. Di dopping dengan induksi benar benar intens sakit nya makin lama makin sakittttttttt. Aku gak kuat lagi, tak ada yang menemani, di dalam perutpu aku tak lagi merasakan gerakan bayi ku... Tepat jam 11 aku melahirkan sendiri, mereka semua diluar pun kaget kenapa bisa secepat itu. Lahirlah sudah putri ku tercinta tanpa tangisan, tapi hati ini terasa begitu hampa, sambil bertanya kenapa bayiku tak menangis??.. Apa yang salah, kenapa begitu hening hatiku ini. Aku dipindahkan ke kamar isolasi, cacarku masih basah aku tak bisa mengasihi Anakku selama 2 hari dirumah sakit. aku tak bisa bertemu anakku karena cacarku. Hati makin terasa hampa.. seperti ada yang salah. Tapi kenapa keesokan harinya aku dan anakku diperbolehkan pulang? kenapa mereka bilang tak ada masalah? 

Tiba dirumah esok paginya, aku lihat anakku kejang tiba tiba. Badannya mulai panas, aku telpon kakakku dan kami bawa ke UGD terdekat, mereka bilang tak apa ini cacar yang menular dari ibunya lalu kami disuruh pulang. Diberi resep obat cacar, tapi aku tak berani memberinya ke anakku, karena aku tau ini bukan cacar. Siang nya aku memohon ke dia untuk dibawa ke UGD lain, kakakku dan ibuku khawatir dan menyuruh kerumah sakit yang lebih bagus, tapi yang dia bilang malah "Biar kita urus sendiri, gak usah dengarin kakak kakak mu" Ya Tuhan... aku cuman diam.. aku gelisah dan sedih dan sakit hati begitu dalam, tapi aku tak kuasa membantahnya dan hanya bisa menurut. Aku pun diam. sampai sore tiba tiba anakku mulai nangis tak berhenti aku pun ikut nangis sambil memgang tangan mungil anakku dan berkata "ayo... kerumah sakit lagi" lalu diapun mengiyakan.


Kami bawa kerumah sakit, bayiku pun di rawat inap di NICU, kami semua pulang karena tak boleh di temani dan kami akan dikabarkan lewat telepon. Dirumah aku mendegarkan asmaul husna sambil ikhtiar, tapi dia marah dan menyuruh aku untuk matikan suara itu, aku tak tau kenapa dia begini, tak percaya akan nama nama Allah. Aku diam... aku sesekali mendengar suara bayi nangis tapi gatau arahnya dari mana bener bener gelisah rasanya hati ini. Suster hanya menghubungi dia, dan diapun setiap aku bertanya perihal kabar jawabannya hanya "tak apa apa sudah ditangani oleh ahlinya" "baik baik saja" begitu sampai aku benar benar mengira semua baik baik saja. 

Sampai akhirnya pagi itu aku mau pergi urut laktase, setengah perjalanan dia menelepon dengan suara gemetar menyuruh aku datang ke NICU. Begitu sampai, aku melihat anakku tak merespond apapun, diam tatapan kosong tak bergerak, perlahan lahan detak jantung nya turun... sampai semua gelombang itu menjadi garis lurus... pecah tangisanku tak percaya.. Kenapa... kenapa dia gak bilang kalo anakku sekarat.. kenapa dia selalu bilang anakku gk apa apa.. kenapa.... kalo aku tau aku pasti akan berdoa 2xlipat lebih kencang.. kenapa disembunyiin... kenapaaa.. aku ibunyaaa aku harus tau juga kondisi anakku yang aku kandung selama kurang dari 9bulan.. kenapaaaa ya Allah.. kenapa aku harus mengalami ini... yaAllah dosa bejat apa yang aku lakukan sampai kau beri aku bantuan surga??? ya Allah.. aku menjaga kesucianku selama ini, begitu aku dititipkan kenapa langsung engkau ambil.. ya Allah dosa apa aku ya Allah... kenapa aku diberi ujian seperti ini ya Allah... Aku gak kuat.. dari awal hamil aku udah berusaha kuat dan tegar tapi kenapa aku di beri puncak ujian saat ini.. ya Allah ampuni aku kalo aku gak iklas, ampuni aku kalo aku belum bisa iklas... ampuni aku ya Allah..


Hidupku berubah.. aku tak lagi ceria.. tak lagi tersenyum.. tak lagi mau mengalah.. tak lagi mau menurut.. tak lagi mau berbakti.. tak lagi.. aku berhenti.. berhenti menjadi baik. berhenti menjadi istri yang baik. berhenti menjadi sosok yang sempurna. berhenti menghargai.. berhenti menerima rasa sakit hati dan perlakuan jahat mu.. kali ini aku yang jahat.. kali ini tak akan kubiarkan hati ku tersiksa lagi.

Semua berhenti sampai disini. 

continue to part 2. soon or later. bye

Tidak ada komentar:

Isbiantari Siregar. Diberdayakan oleh Blogger.